| Inilah lagu kau pinta dulu - balada seorang teman, yang berbekal dengan satu tekad mencari jalan pulang. Kisah gejolak jiwa dan badan tersirat dan suratan, coba menghapuskan kesakitan, merintih meraung pinta keadilan atas nama sebuah cinta maknawi lagu nama perjalanan sepi... Bahu kanan dan kirinya adalah teman akrab memikul beban asmara berahi tiada kehabisannya. Tubuh manusia ini terkadang melupa dia manusia, sebutir pasir sebuah pantai, batu bata dari sebuah kota. Cerminlah cerminkanlah kejadian ini di dalam sebuah panggung sandiwara rasa... Hei musuh, berikan namamu sebenar! Ayuh tunjukkanlah wajahmu! Ayuh bentangkanlah permainanmu! Hei hidup, kau humbankanku di penjara ini, apakah bentuk emansipasiku merupakan sebuah pusara? Dan cukup kau hamparkan beban kenikmatan ini padaku, sedang kau tahu tahap mana ketahananku! Itulah yang kau mahu dari jiwa ini. Apalah pasir yang menjadi kaca, kaca menjadi cangkir. Apalah tangan yang membentuk cangkir, apalah mulut yang meminum air. Aku nantikan hujan mawar dan tak ingin lagi kehilangan. Turunlah hujan mawar, basahkan bumi saharaku. Biarku bermandi seribu warna pelangi. Biarku hapus rindu dalam pelukan cinta maknawi. Inilah lagu kau pinta dulu - balada seorang teman, yang berbekal dengan satu tekad mencari jalan pulang. Kisah gejolak jiwa dan badan tersirat dan suratan, coba menghapuskan kesakitan, meraung meminta suaranya kedengaran. Ohh rindu, apalah penghujungmu? *Terasa seperti lagu mencari hakikat diri. Dalam dari yang terdalam. Halus dari yang terhalus. Mungkin. |
_balada seorang teman
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 mulut bersuara:
Post a Comment